Beranda > sekitar kita > Anak yang Kemarin

Anak yang Kemarin

Fakta dan Realita.

Saya tidak tahu dia akan kemana. Wong orangnya saja tidak kenal.

Kalau diperhatikan, dia adalah seorang anak kecil laki-laki berumur

sekitar 7 tahunan. Kalau anak kecil itu berseragam sekolah mungkin dia duduk

di kelas 1 Sekolah Dasar (SD) dan tentunya tujuannya pasti ke sekolah donk.

Tapi anak kecil yang saya lihat ini berkaos lengan pendek, bercelana pendek

dan bersoren tas kecil. Saya tidak tahu apa yang tersimpan di dalam tasnya.

Awalnya di angkot yang saya tumpangi, tiba-tiba distop oleh anak kecil tersebut, disamping kanannya berdiri seorang anak kecil yang lebih muda dari dia,

pasti adiknya. Karena angkot yang saya tumpangi berangkat setelah anak kecil itu berlambai pada anak kecil yang lebih muda tadi.

Saya awalnya tidak kepikiran, anak bersoren tas kecil itu, anak Indonesia, telah

s membuat saya simpati.

Besoknya, secara kebetulan saya ketemu lagi sama anak yang kemarin di angkot. Sebelumnya ketika mau melewati tempat dimana dia kemarin naik, dari depan terlihat seorang ibu setengah baya menyetop angkot, kemudian anak bersoren tas kecil itu disuruh naik, pasti ibu setengah baya tersebut ibunya. Seperti kemarin, angkot mulai melaju setelah satu keluarga itu saling melambai. Setelah itu sampailah anak yang kemarin di tempat dia kemarin turun….:(

Tangannya yang halus mungil merogoh tas soren kecilnya….. maka keluarlah benda yang tidak sempat terpikir oleh saya, terharu biru dalam hati, kantong pelastik dan satu buah kecrekan buatan sendiri dalam gengamannya.

”Kiri Pak..!”, teriaknya.

Sebelum dia turun, kantong pelastik yang dia pegang disodorkannya kearah kami penumpang yang ada didalam di angkot, dengan suara khasnya, suara lembut anak kecil. Maka turunlah dia setelah tidak ada satupun penumpang yang memasukkan uang ke kantong pelastik miliknya, termasuk saya.

Untuk temen-temen yang lebih tahu persoalan seperti ini, apa sih yang sebaiknya dilakukan dalm kondisi seperti itu.

Menurut pandangan saya sendiri, jika penyanyi jalanan itu di lakoni oleh orang dewasa dan memang suaranya itu gak bikin ngantuk, dan orang tersebut melakukan hal itu dengan niatan yang baik dan memiliki santun yang baik… ok lah. Mungkin jalanan buat mereka adalah ajang berkreasi.

Tapi kalau sudah anak kecil yang melakoninya. Dunia ini seperti

kecil dibuatnya.

Bagaimana pandangan Anda pada persoalan tersebut.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: